MAKALAH
AKHLAQ
PRIBADI
Disusun untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah “Aqidah Akhlaq”
Dosen pembimbing Prof. Dr. H. Yunahar, Lc., M. Ag.

KELOMPOK
3
Mei Laily Nafi (20140720181)
Lisana Aliyya Humaida (20140720183)
Mulya Utami (20140720183)
Indah Kusumaningrum (20140720196)
Zaidah Meilani ( 20140720202)
Fithrotul Aqidah (20140720217)
Pendidikan Agama Islam
Fakultas Agama Islam
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Memahami
akhlaq merupakan masalah fundamental dalam islam, akhlaq karena merupakan salah
satu hal yang pokok dalam ajaran islam. Akan tetapi seiring perkembangan zaman,
akhlaq sudah mulai luntur dari pribadi individu-individu yang ada. Karena
akhlaq merupakan hal yang penting maka seseorang perlu untuk memahami hakikat
akhlaq yang sebenarnya dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jika seseorang sudah memahami akhlaq dan menghasilkan kebiasaan hidup yang baik,
maka akhlaq sudah merasuk dan tertanam pada diri seseorang tersebut. Akhlaq
merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani,
pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan
tindakan akhlaq yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian. Semua yang
telah dilakukan itu akan melahirkan perasaan moral yang terdapat di dalam diri
manusia itu sendiri sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik
dan mana yang buruk.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa hakikat akhlak?
2.
Apa hakikat akhlak pribadi?
3.
Bentuk-bentuk akhlak pribadi?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Mengetahui hakikat akhlak
2.
Mengetahui hakikat akhlak pribadi
3.
Mengetahui bentuk-bentuk akhlak pribadi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Akhlaq
a. Secara Bahasa
Akhlaq berasal dari bahasa Arab yaitu jamak dari
khuluqun, yang menurut lughat diartikan adat kebiasaan, perangai, watak,
tabiat, atau pembawaan, adab atau sopan santun, dan agama. Kata tersebut
mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalaqa yang berarti
menciptakan dan khalqun yang berarti juga kejadian.
Kata khalqun, erat hubungannya dengan Khaliq yang
berarti pencipta dan makhluq yang
berarti yang di ciptakan dan dari sinilah asal mula perumusan ilmu akhlak yang
merupakan koleksi urgensi yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara
Makhluk dengan Khaliq dan antara Makhluk dengan makhluk.
Luis Ma’luf (1986 : 194), Abuddin Nata (2002 : 1)
dan Sofyan Sauri (2008 : 136) menjelaskan bahwa Akhlak adalah bentuk jama dari
khuluq, yang bermakna al-sajiyah (perangai), ath-thabi’ah (kelakuan, tabi’at,
watak dasar), al-adat (kebiasaan, kelaziman), al-muru’ah (peradaban yang baik)
dan ad-din (agama). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007 : 20) akhlak
bermakna budi pekerti.
Berdasarkan
pendapat para ahli diatas, dapat kita simpulkan bahwa akhlak secara bahasa
adalah perangai, kelakuan, tabiat, watak dasar, kebiasaan, kelaziman, peradaban
yang baik, agama, dan budi pekerti yang baik.
b. Secara Istilah
Abuddin
Nata (2002:3-5) mencatat berbagai pengertian tentang akhlaq secara istilah
menurut para ulama, yaitu :
1. Menurut Ibnu Maskawaih
Sifat
yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa
memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
2. Menurut Imam Ghozali
Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan
perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.
3. Menurut Ibrahim Anis
Sifat
yang tertanam didalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan baik
atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
4.
Abdul Karim Zaidan
Akhlaq adalah
nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan
timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian
memilih melakukan atau meninggalkannya.
Dari perngertian para ulama di atas, dapat kita
gambarkan bahwa akhlaq setidaknya memiliki lima karakteristik yaitu :
٭
Tertanam kuat di dalam jiwa seseorang
٭
Akhlaq di lakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran
٭
Akhlaq timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya tanpa ada
paksaan dan
tekanan dari luar
٭
Akhlaq dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena
bersandiwara
٭
Akhlaq dilakukan ikhlas semata-mata karena Allah bukan karena ingin
dipuji
orang atau karena ingin mendapatkan sesuatu pujian.
B. Akhlaq
Pribadi
Akhlaq pribadi atau dalam bahasa arab adalah al
akhlaq al fardiyah, yakni akhlaq yang terdiri dari :
Yang diperintahkan ( al awamir )
Yang
dilarang ( an nawahi )
Yang
dibolehkan ( al mubahat )
Akhlaq
dalam keadaan darurat ( al mukhalafah
bi al al idhtirar )
C.
Macam-macam Akhlaq Pribadi
a.
Shidiq
Shidiq (ash-shidqu)
yang artinya benar atau jujur, lawan dari dusta atau bohong (al-kazib). Kita
sebagai orang muslim dituntut selalu dalam keadaan benar lahir batin, benar
hati, benar perkataan, dan benar perbuatan. Antara hati dan perkataan harus
sama, tidak boleh berbeda, apalagi antara perkataan dan perbuatan
Rasulullah SAW telah memerintahkan kita untuk selalu
shidiq, karena sikap shidiq akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan
mengantarkan kita ke surga. Dan sebaliknya jika kita melakukan kebohongan maka
itu akan mengantarkan kita kepada neraka.
Rasullah bersabda :

Artinya :
“Sesungguhnya ash shidq (kejujuran) itu menunjukkan
kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga dan
sesungguhnya seorang bermaksud untuk jujur sehingga dicatatlah di sisi Allah
sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu menunjukkan kepada
kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu menunjukkan kepada neraka.
Sesungguhnya seorang itu bermaksud untuk berdusta sehingga dicatatlah di sisi
Allah sebagai seorang yang suka berdusta.” (Muttafaq ‘alaih)
Bentuk-bentuk Shiddiq
Seorang
Muslim harus selalu bersikap benar dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun.
Shidiq terdiri dari lima bagian :
1) Benar
Perkataan (shidq al-hadits)
Kita sebagai seorang muslim dan muslimah dalam
keadaan apapun dan dengan siapapun harus bisa berkata yang baik dan benar, baik
dalam menyampaikan informasi, menjawab suatu pertanyaan, dan memerintah ataupun
yang lainnya. Seperti dalam hadits nabi :
Artinya : Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu,
sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya
dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia
memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)
2) Benar
Pergaulan (shidq al-mu’amalah)
Kita sebagai
seorang muslim harus bisa bermua’amalah dengan baik kepada orang lain, tidak
bohong, tidak mendusta, dan tidak memalsu. Orang yang shidiq dalam mu’amalah akan
menjadi tawadhu’ ( rendah hati ), jauh dari sifat sombong dan ria,
Rasulullah
saw bersabda :

Artinya :
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar
kamu bersikap tawadhu’ sehingga tidak ada seorangpun yang menzalimi yang
lainnya, dan juga tidak ada seorangpun yang bersikap sombong terhadap yang
lainnya.” (HR. Muslim)
3) Benar Kemauan
(shidq al-a’zam)
Sebagai
umat yang beragama, sebaiknya sebelum kita memutuskan suatu perkara atau suatu
hal, lebih baik kita mempertimbangkan dan menilai dahulu, apakah yang
dilakukannya itu benar dan bermanfaat atau tidak.
4) Benar
Janji (shidq al-wa’ad)
Apabila
berjanji, kita sebagai seorang muslim akan selalu menepatinya. Mengingkari
janji adalah sifat tercela dan salah satu sifat munafik. Sesungguhnya Allah swt
menyukai orang-orang yang selalu menepati janjinya.
Allah swt berfirman :
Artinya :
(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menempati
janji (yang dibuatnya) dan bertaqwa, maka sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertaqwa. (Ali 'Imran : 76)
5) Benar
Kenyataan (sidq al-had)
Seorang
Muslim akan menampilkan dirinya seperti keadaan yang sebenarnya. Dia tidak akan
menipu kenyataan, misal : tidak memakai baju kepalsuan, tidak mencari nama, dan
tidak pula mengada-ada.
Kebohongan
Sifat
bohong adalah sifat tercela, Rasulullah SAW menyatakan bahwasanya seorang
muslim tidak mungkin menjadi pembohong. Seorang muslim harus menjauhi dari
segala bentuk kebohongan, dan dalam bentuk apapun.
Bentuk-bentuk
kebohongan:
1) Khianat
Sifat khianat adalah sejelek-jeleknya sifat bohong
yang dimiliki seseorang. Allah swt melarang untuk berkhianat, apalagi kepada
Allah SWT dan rasul-Nya.
Allah swt berfirman :
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu
mengkhianati Allah swt dan RasulNya dan jangan (juga) kamu mengkhianati amanat-amanatNya
yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. ( QS. Al-Anfal : 27 )
2) Mungkir
Janji
Sifat mungkir
janji menunjukkan pelakuannya memiliki kepribadian yang lemah. Sifat itu
mencabut kasih sayang dan mendatangkan kemudharatan. Mungkir janji menyebabkan
waktu terbuang sia-sia dan melahirkan angan-angan kosong. Mungkir janji juga
termasuk salah satu sifat orang-orang munafik.
Rasulullah saw bersabda:
Artinya:
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. jika
berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia
berkhianat”. (HR Bukhari)
3) Fitnah
Fitnah
adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah swt. Oleh sebab itu Allah memerintahkan
kepada orang-orang yang beriman untuk tabayyun ( menyelidiki kebenaran suatu
berita ) sebelum mempercayai yang disampaikan oleh orang fasik.
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu
orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak
menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.(Al-Hujurat : 6)
4) Kesaksian
Palsu
Kesaksian
palsu merupakan kebohongan yang mendatangkan kemudharatan besar bagi masyarakat
dan termasuk dalam dosa besar.
Rasulullah saw bersabda :

Artinya: Anas ra berkata: “Rasulullah saw. ditanya
tentang dosa-dosa besar, kemudian beliau menjawab: “Mempersekutukan Allah,
durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa (manusia), dan saksi palsu.”
5) Gunjing
Sifat
menggunjinag adalah sifat seseorang yang memiliki jiwa yang sakit, tidak ada
keinginan dalam hidupnya, yang ada hanya dia akan senang jika melihat seseorang
bermusuhan dan bertengkar. Allah memberi perumpamaan orang-orang yang memilik
sifat gunjing seperti memakan bangkai saudaranya. Oleh karena itu sebaik-baik
senjata melawan gunjing adalah dengan tidak mendengarkannya.
Allah berfirman :

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan
janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama
lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang
sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al-
Hujurat : 12)
b. Amanah
Amanah
secara etimologis dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar dari (amina- amanatan)
yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia amanah
berarti pesan, perintah, keterangan atau wejangan.
Amanah
adalah segala sesuatu yang dibebankan Allah kepada manusia untuk dilaksanakan. Amanah
mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman, sehingga mu'min
berarti yang beriman, yang mendatangkan keamanan, juga yang memberi dan
menerima amanah. Orang yang beriman disebut juga al-mu'min, karena orang yang
beriman menerima rasa aman, iman dan amanah. Bila orang tidak menjalankan
amanah berarti tidak beriman dan tidak akan memberikan rasa aman baik untuk
dirinya dan sesama masyarakat lingkungan sosialnya. Amanah adalah jalan menuju
kesuksesan.
Allah swt
berfirman: “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan
janjinya.” (QS 23: 8). Dalam ayat lain Allah berfirman: “58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan
hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
mendengar lagi Maha Melihat.” (QS 4: 58)
Bentuk-Bentuk
Amanah
Dari pengertian
amanah diatas dapat kita kemukakan beberapa bentuk amanah sebagai berkut:
1. Memelihara
Titipan dan Mengembalikannya Seperti Semula.
Apabila
seorang muslim dititipi oleh orang lain, misalnya barang berharga. Sekalipun
dalam penitipan tidak ada bukti transaksai tertulis, titipan itu harus
dipelihara dengan baik dan pada saatnya dikembalikan kepada yang punya haruslah
dalam keadaan utuh seperti semula.
Allah swt berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila
menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS.An-nisa : 58)
2. Menjaga
Rahasia
Seorang
muslim akan dapat menjaga rahasianya baik itu rahasia pribadi,keluarga,
organisaisi, dan lain sebagainya agar
tidak di ketahui orang lain. Apabila seseorang menyampaikan sesuatu yang
penting dan rahasia kepada kita, itulah amanah
yang harus kita jaga.
Rasulullah saw bersabda :

Artinya : Nabi pernah membisikkan suatu perkara rahasia kepadaku, maka hal itu aku tak akan kuceritakan kepada siapapun. Dan sungguh Ummu Sulaim pun pernah bertanya tentang rahasia tersebut, namun aku tak menceritakannya. [HR. Bukhari No.5815].
3. Tidak
Menyalahgunakan Jabatan
Jabatan
adalah suatu amanah yang harus dijaga. Hukumnya wajib. Penyalahgunaan jabatan
untuk kepentingan pribadi, baik keluarga, ataupun kelompoknya termasuk perbuatan tercela yang melanggar
amanah, hukumnya haram.
Misalnya seorang seseorang yang di percaya menjadi
wakil rakyat akan tetapi justru mengambil hak- hak rakyat, berarti dia telah
menyalahgunakan amanah yang telah diberikan oleh rakyat sebagai wakil rakyat.
Rasulullah saw bersabda :
مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ
مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ
“Barangsiapa yang kami angkat
menjadi karyawan untuk mengerjakan sesuatu, dan kami beri upah menurut
semestinya, maka apa yang ia ambil lebih dari upah yang semestinya, maka itu
namanya korupsi”. (HR. Abu Dawud dari Buraidah).
4. Menunaikan
Kewajiban dengan Baik.
Semua tugas
yang diberikan Allah kepada manusia, maka manusia wajib menjalankannya karena itu semua ada
pertanggung jawabannya dihadapan Allah swt.Betapapun kecilnya, akan dihisab
oleh Allah swt.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya.(QS.Al-zalzalah :7)
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat
zarah pun niscaya Allah swt akan melihatnya.” (QS. Zalzalah : 8)
5. Memelihara
Nikmat Yang Telah Diberikan Oleh Allah
Semua
nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia merupakan suatu amanah yang
harus dijaga dengan baik. Termasuk didalamnya umur, kesehatan, rizki, nikmat,
harta benda dan lain sebagainya. Misalnya
harta benda yang diberikan oleh Allah harus digunakan untuk mencari ridho Allah, selalu bersyukur dan membiasakan
bersedekah.
Khianat
Lawan dari
sifat Amanah adalah khianat.
Kata khianat berasal dari bahasa arab yang berupa
bentuk masdar dari kata kerja “خان-
يخون”
selain “خيانة”
bentuk masdarnya bisa berupa ‘خونا
– وخاونة
– ومخانة
" yang semuanya berarti “ان
يؤتمن الا نسان فلا ينصخ ” sikap tidak bagusnya
seseorang ketika diberi kepercayaan.
Allah swt berfirman :

Artinya: “Dan janganlah kamu berdebat ( untuk
membela ) orang-orang yang menghianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berhianat lagi bergelimang dosa.” (QS. An-Nisa :107)
c. Istiqomah
Secara etimologis, istiqomah berasal dari
istiqoma-yastaqimu yang berarti tegak lurus. Dalam terminologi akhlaq istiqomah
adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun
menghadapi berbagai macam rintangan dan godaan.
Perintah dalam beristiqomah dinyatakan dalam
al-Aquran :

Artinya: Maka karena itu serulah (mereka kepada
agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah
mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua
Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara
kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi
kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah
mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita)".( QS.Asy-Sura:
15 )
Iman yang
sempurna adalah iman yang mencakup tiga
dimensi yaitu hati, lisan dan amal perbuatan. Seorang yang beriman harus dapat
beristiqomah dalam tiga dimensi tersebut. Ibarat berjalan seorang yang beristiqomah akan selalu
berjalan kepada yang lurus yang cepat
alam menghantarkan tujuan.
Hal ini tercermin dalam perkataan dan perbuatanya yang benar untuk mensucikan hati dan dirinya.
Tentulah orang yang berisitiqomah akan mengalami beberapa ujian dari Allah.
Ujian dari Allah tidaklah berupa kesedihan semata
melainkan ujian dari Allah termasuk
kesenangan juga. Namun seorang yang istiqomah akan tetap teguh dalam
mengahadapi kedua ujian terebut. Dia
tidak akan pernah mundur terhadap ancaman, kemunduran, hambatan dan lain
sebagainya. Tidak terbujuk oleh harta benda, kemegahan, pujian, kesenangan.
Buah
dari Istiqomah
Dalam QS. Funshshilat 41: 30-32 dijelaskan beberapa
buah yang akan dipetik oleh orang yang beristiqomah baik didunia maupun di akhirat.
Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa buah dari
istiqomah adalah :
1. Orang yang
beristiqomah akan dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih yang
negatif. Misalnya takut menghadapi masa
depan, takut menyatakan kebenaran namun orang yang beristiqomah
senantiasa akan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupannya didunia karena
akan dilindungi oleh Allah.
2. Akan
mendapatkan lindungan oleh Allah yang dijamin akan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupan
perjuangan di dunia.
Demikianlah sikap istiqomah memang sangat diperlukan
dalam kehidupan ini. Karena tanpa sikap
seperti itu seseorang akan cepat berputus asa dan cepat lupa diri, dan mudah
terombang ambing oleh berbagai macam arus. Orang yang tidak beristiqomah ibarat
baling-baling di atas bukit yang berputar menuruti arah angin yang berhembus.
d.Iffah
Secara
etimologis, iffah adalah bentuk masdar dari affa-ya’iffu-iffah yang berarti
menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik,dan juga berarti kesucian tubuh.
Secara terminologis,iffah adalah memelihara
kehormatan diri dari segala hal yanag akan merendahkan,merusak dan menjatuhkannya.
Nilai dan
wibawa seseorang tidaklah di tentukan oleh kekayaan dan jabatannya,dan tidak
pula oleh bentuk dan rupanya,tapi di tentukan oleh kehormatan dirinya.Untuk
menjaga kehormatan diri tersebut,setiap orang haruslah menjauhkan diri dari
segala hal yang dilarang oleh Allah SWT.dia harus bisa mengendalikan hawa
nafsunya.
Bentuk-bentuk
Iffah
Al-qura’an dan hadis memberikan beberapa contoh dari
iffah sebagai berikut:
1. Untuk menjaga kehormatan diri dalam
hubungannya dengan masalah seksual,seorang Muslim dan Muslimah diperintahkan
untuk menjaga pandangan,penglihatan,pergaulan dan pakaiannya.
Allah swt berfirman: 

Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang
beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara
kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. An-nisa :30)

Artinya : Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain
kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka,
atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau
putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau
putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka
memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung. (QS. An-nisa:31)
Dan Allah SWT.berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat
59,

Artinya: “Hai Nabi,katakanlah kepada
istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin,hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.yang demikian itu supaya
mereka lebih mudah untuk dikenal,karena itu mereka tidak diganggu dan Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dari ayat
diatas jelaslah bagaimana Allah dan Rasulnya memberikan tuntunan tentang cara
menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan masalah seksual.
Disamping tidak bergaul secara
bebas,untuk menjaga kehormatan diri, islam mengajarkan kepada kita bagaimana
mengatur pandangan terhadap lawan jenis dan berpakaian yang sopan dan benar
menurut agama,yang menutup aurat,tidak ketat,tidak transparan dan tidak pula menunjukkan
kesombongan.
2. Untuk menjaga kehormatan diri dalam
hubungannya dengan masalah harta,islam mengajarkan,terutama bagi orang miskin
untuk tidak menadahkan tangannya (meminta-minta). Islam juga menganjurkan
kepada orang-orang yang mampu untuk membantu orang -orang miskin yang tidak mau
memohon bantuan karna sikap iffah mereka.Allah berfirman dalam surat Al-Baqoroh
ayat 273,

Artinya: “(Berinfaklah)kepada orang orang fakir yang
terikat(oleh)jihad di jalan Allah;mereka tidak dapat (berusaha)di muka bumi
ini;orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena mereka memelihara
diri dari minta-minta.kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifat nya,mereka
tidak meminta kepada orang secara mendesak.dan apa saja harta yang baik yang
kamu nafkahkan di jalan Allah maka sesungguh nya Allah Maha Mengetahui”
Meminta-minta adalah perbuatan yang merendahkan
kehormatan diri.Dari pada meminta-minta seorang lebih baik mengerjakan apa saja
untuk mendapatkan penghasilan asal halal sekalipun mengumpulkan kayu api.
3. Untuk menjaga kehormatan diri dari dalam
hubungannya dengan kepercayaan orang lain kepada dirinya,seseorang harus betul-betul
menjauhi segala macam ketidak jujuran, jangan sekali-kali berkata bohong,
ingkar janji, khianat dan lain sebagainya.
Rasulullah saw bersabda:
Artinya : “Berikanlah
jaminan kepadaku terhadap enam perkara,maka aku akan memberimu enam jaminan
kalian masuk syurga.Yaitu, jujurlah bila kamu berkata,tepatilah bila kamu
berjanji, tunaikanlah amanah kepada yang berhak jika kamu diberi amanah,jagalah
kemaluanmu,tegurkanlah pandanganmu,dan tahanlah tanganmu(sehingga tidak
menyakiti orang lain).” (HR.Ahmad dan Ibn Hibban)
Demikianlah sifat iffah yang sangat di perlukan
untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri sehingga tidak ada peluang sedikit
pun bagi orang lain (yang tidak senang dengannya) untuk melemparkan tuduhan dan
fitnahan.Orang yang mempunyai sikap iffah akan dihormati dan mendapatkan
kepercayaan dari masyarakat. Dan yang lebih penting lagi dia akan mendapatkan
ridho Allah swt.
e. Mujahadah
Istilah
mujahadah berasal dari kata jaahada-yuhaahidu-mujaahadah-jihad yang berarti mencurahkan segala kemampuan.
Dalam konteks akhlaq,mujahadah adalah mencurahkan segala kemampuan untuk
melepas diri dari segala hal yang menghambat pendekatan diri terhadad Allah swt,
baik hambatan yang bersifat internal maupun eksternal.
Hambatan
yang bersifat Internal datang dari jiwa yang mendorong untuk berbuat
keburukan,hawa nafsu yang tidak terkendali,dan kecintaan kepada dunia.Sedangkan
hambatan eksternal datang dari syaithan,orang kafir, munafik, dan para pelaku
kemaksiatan dan kemungkaran.Untuk mengatasi semua hambatan tersebut diperlukan
usaha dan perjuangan yang sungguh-sungguh serta usaha yang keras,dan itu
disebut dengan Mujahadah.Apabila seseorang bermujahadah untuk mencari keridhoan
Allah SWT,
maka Allah
berjanji akan menunjukkan jalan baginya untuk mencapai tujuan tersebut. Allah
SWT,berfirman:
Objek
Mujahadah
Secara
terperinci,objek mujahadah ada enam hal :
1. Jiwa yang selalu mendorong seseorang untuk
melakukan kedurhakaan atau dalam istilah Al-Qur’an fujur. Jiwa ini adalah yang
mendorong kepada keinginan-keinginan yang rendah yang menjurus kepada hal-hal
yang negatif.
2. Hawa nafsu tidak terkendali, yang menyebabkan
seseorang melakukan apa saja untuk memenuhi hawa nafsunya itu tanpa memedulikan
mudhorot bagi dirinya dan orang lain. Untuk
mengendalikan hawa nafsu diperlukan sebuah perjuangan yang tidak kenal
lelah,karena perang melawan hawa nafsu lebih berat dari pada perang melawan
musuh di luar.
3. Syaithan yang selalu menggoda umat manusia
untuk memperturukkan hawa nafsu nya sehingga lupa kepada Allah swt, dan untuk
selanjutnya lupa kepada dirinya sendiri.
4. Kecintaan terhadap dunia yang berlebihan
sehingga mengalahkan kecintaan kepada akhirat, padahal keberadaan manusia di
dunia hanya sementara, dan kehidupan yang kekal dan abadi adalah kehidupan di
akhirat
5. Orang kafir dan munafik yang tidak pernah
puas hati sebelum orang-orang beriman kembali menjadi kufur.
6. Para pelaku kemaksiatan dan
kemungkaran,termasuk dari orang-orang yang mengaku beriman sendiri, yang tidak
hanya merugikan dirinya tapi merugikan masyarakat. Dan perbuatan mereka dapat
mengganggu orang lain melakukan amal ibadah dan kebajikan.Untuk itulah Allah
SWT, memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk melakukan nahi munkar,
di samping amar ma’ruf.
Cara mujahah
Setelah
menyadari enam hal yang menjadi objek mujahadah diatas, maka kita perlu
berusaha mencurahkan segala kemampuan dan potensi yang kita miliki untuk
menghadapinya.Secara garis besar ada tiga cara mujahadah:
v
Yang pertama,sebagai landasan teoristis,berusaha sungguh-sungguh:
1. Memahami hakikat jiwa dan bagaimana pengaruh
kebaikan dan keburukan yang dilakukan terhadap kesucian jiwa.
2. Menyadari bahwa hawa nafsu jika di kelola
dengan baik akan berakibat positif untuk kebaikan diri,tapi jika tidak bisa di
kendalikan akan merusak.
3. Menyadari dan mengingat selalu bahwa syaitan
tidak akan pernah berhenti menjerumuskan umat manusia dengan segala macam cara.
4. Menyadari bahwa segala nikmat kehidupan di
dunia belum seberapa dibandingkan dengan nikmat di syurga.
5. Menyadari bahwa sebagian besar orang-orang
kafir dan munafik tidak akan pernah berdiam diri selama orang-orang beriman
tidak mengikuti pandangan dan sikap hidup mereka, oleh sebab itu di perlukan
persatuan dan tolong menolong sesama orang islam dalam menghadapinya.
6. Menyadari bahwa kemaksiatan dan kemungkaran
jika dibiarkan akan merusak masyarakat dan menghancurkan segala kebaikan yang
sudah dibangunnya.
v
Yang kedua, melakukan amal ibadah praktis yang dituntunkan oleh Rasulullah
saw, untuk memperkuat mental spiritual dan meningkatkan semangat juang untuk
menghadapi semua tantangan,dan amalan itu antara lain:
1. Mendirikan sholat malam,karena malam sangat
efektif untuk meningkatkan mental spiritual dan semangat juang,
2. Puasa
sunnah
3. Membaca Al-Qur’an sebanyak-banyak nya dan
lebih baik lagi jika diikuti dengan perenungan serta pemahaman isinya.
4. Berdzikir
dan berdo’a, terutama mohon perlindungan Allah SWT, dari godaan syaitan.
v
Yang ketiga (untuk menghadapi hambatan luar) adalah dengan jihad,mulai
dari jihad dengan harta benda,ilmu pengetahuan,tenaga,sampai dengan nyawa.
Dengan
demikian barang siapa yang bermujahadah pada jalan Allah SWT maka Allah akan
memberikan hidayah kepadanya,dan pada akhirnya semua hasil dari mujahadah itu
akan kembali untuk kebaikan dirinya sendiri.Allah berfirman dalam Al-Qur’an
surat Al-‘Ankabut ayat 6,
Artinya: “Dan
barang siapa yang bermujahadah,maka sesungguhnya mujahadahnya itu adalah untuk
dirinya sendiri,sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan
sesuatu) dari semesta alam”
f.
Syaja’ah
Syaja’ah
artinya berani, tapi bukan berani dalam arti siap menantang siapa saja tanpa
mempedulikan apakah dia berada di pihak yang benar atau salah, dan bukan pula
berani memperturutkan hawa nafsu. Tetapi berani yang berlandaskan kebenaran dan
dilakukan dengan penuh kebenaran.
Rasulullah saw bersabda, yang artinya:
“Bukanlah yang dinamakan pemberani itu orang yang
kuat bergulat. Sesungguhnya pemberani itu ialah orang yang sanggup menguasai
dirinya diwaktu marah”. (HR. Muttafaqun ‘Alaih)
Bentuk-bentuk
Keberanian
1.
Keberanian menghadapi musuh dalam peperangan (jihad fi
sabilillah).Seorang muslim harus berani terjun ke medan perang untuk menegakkan
dan membela kebenaran. Seseorang dapat dikatakan memiliki sifat berani jika ia memiliki daya
tahan yang besar untuk menghadapi kesulitan, penderitaan dan mungkin saja
bahaya dan penyiksaan karena ia berada di jalan Allah.
Allah swt berfirman :

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah
kamu membelakangi mereka (mundur). (Al-Anfal : 15)

Artinya: Barangsiapa yang membelakangi mereka
(mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak
menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu
kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka
Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (Al-Anfal: 16)
2.
Berterusterang dalam kebenaran
Qulil haq walau kaana muuran (katakan yang benar
meskipun itu pahit) dan berkata benar di hadapan penguasa yang zhalim adalah
juga salah satu bentuk jihad bil lisan. Jelas saja dibutuhkan keberanian
menanggung segala resiko bila kita senantiasa berterus terang dalam kebenaran.
3.
Mengakui kesalahan
Salah satu orang yang memiliki sifat pengecut adalah
tidak mau mengakui kesalahan, mencari kambing hitam dan bersikap “lempar batu,
sembunyi tangan”.Sebaliknya orang yang memiliki sifat syaja’ah berani mengakui
kesalahan, mau meminta maaf, bersedia mengoreksi kesalahan dan bertanggung
jawab.
4.
Bersikap objektif pada diri sendiri
Ada orang yang cenderung bersikap over estimasi
terhadap dirinya, menganggap dirinya baik, hebat, mumpuni dan tidak memiliki
kelemahan serta kekurangan. Sebaliknya ada yang bersikap under estimasi
terhadap dirinya yakni menganggap dirinya bodoh, tidak mampu berbuat apa-apa
dan tidak memiliki kelebihan apapun.
Kedua sikap tersebut jelas tidak proporsional dan
tidak objektif. Orang yang berani akan bersikap obyektif, dalam mengenali
dirinya yang memiliki sisi baik dan sisi buruk adalah contoh sifat syaja’ah.
5.
Menahan nafsu di saat marah
Seseorang dikatakan berani bila ia tetap mampu
bermujahadah li nafsi, melawan nafsu dan amarah. Kemudian ia tetap dapat
mengendalikan diri dan menahan tangannya padahal ia punya kemampuan dan peluang
untuk melampiaskan amarahnya.
Contohnya Figur Sahabat dan Sahabiyah yang Memiliki
Sifat saja’ah. Berani karena benar dan rela mati demi kebenaran. Slogan
tersebut pantas dilekatkan pada diri sahabat-sahabat dan sahabiyah-sahabiyah
Rasulullah saw. Karena keagungan kisah-kisah perjuangan mereka.
g. Tawadhu’
Tawadhu’
adalah sikap merendah tanpa menghinakan diri. Merendahkan diri adalah sifat yang
sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhlukNya. Setiap
orang mencintai sifat ini sebagaimana Allah dan RasulNya mencintainya. Sifat
terpuji ini mencakup dan mengandung banyak sifat terpuji lainnya.
Tawadhu’
adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerima dari siapapun datang baik
ketika suka atau dlm keadaan marah. Arti janganlah kamu memandang dirimu berada
di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu.
Lawan dari sifat tawadhu’ adalah takabbur sifat yang sangat dibenci Allah dan
Rasul-Nya.
Keutamaan
Tawadhu’
1. Akan dihargai dan dihormati oleh masyarakat
2.
Disenangi oleh masyarakat
3.
Ditinggikan derajatnya oleh Allah
4. Mendapatkan kasih sayang dari Allah
Allah swt berfirman:

Artinya: Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang
itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan
apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang
mengandung) keselamatan.(Q.S Al-furqon:63)
Macam-macam Tawadhu’:
Telah dibahas oleh para ulama sifat tawadhu’ ini dalam
karya-karya mereka baik dalam bentuk penggabungan dengan pembahasan yang lain
atau menyendirikan pembahasannya. Di antara mereka ada yang membagi tawadhu’
menjadi dua:
1. Tawadhu’ yang terpuji yaitu ketawadhu’an
seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah.
2. Tawadhu’ yg dibenci yaitu tawadhu’seseorang
kepada pemilik dunia karena menginginkan dunia yg ada di sisinya.
Bentuk-bentuk tawadhu’
1.
Tidak menonjolkan diri dari orang-orang yang level atau statusnya sama,
kecuali apabila sikap tersebut menimbulkan kerugian agama atau umat islam.
2.
Berdiri dari tempat duduknya dalam suatu majlis untuk menyambut
kedatangan orang yang lebih mulia dan lebih berilmu daripada dirinya, dan
mengantarkannya ke pintu keluar jika yang bersangkutan meninggalkan majlis.
3.
Bergaul dengan orang awam dengan ramah, dan tidak memandang dirinya lebih
dari mereka.
4.
Mau mengunjungi orang lain, sekalipun lebih rendah statusnya.
5.
Mau berbaur dengan fakir miskin,orang-orang cacat tubuh, kaum dhu’afa dan
bersedia memnuhi undangan mereka.
6.
Tidak makan dan minum secara berlebihan dan juga tidak memakai pakaian
yang menunjukkan kemegahan dan kesombongan.
Takabbur atau Sombong
Lawan daari tawadhu’ adalah takabbur atau sombong,
yaitu sikap menganggap diri lebih dan meremehkan orang lain.
Rasulullah saw bersabda:
Artinya : “Dari Uqbah bin 'Amir RA, sesungguhnya ia
mendengar Rasulullah SAW, bersabda, "Orang yang meninggal dunia, dan
ketika ia meninggal itu di dalam hatinya masih ada sebesar biji sawi dari
sombong, maka tidaklah halal baginya surga, tidak mencium baunya dan tidak pula
melihatnya”. (HR. Ahmad)
Bentuk-bentuk
Takabbur
1. Ingin dihormati dan dimuliakan oleh orang lain
2.
Merasa dirinya lebih hebat dan mulia daripada orang lain
3.
Meremehkan orang lain yang statusnya lebih rendah
4. Tidak mau mengerjakan sesuatu yang merendahkan
derajatnya.
h. Malu
Malu (Al-Haya’)
adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah
atau tidak baik. Orang yang memiliki rasa malu, apabila melakukan sesuatu yang
tidak patut, rendah atau tidak baik dia akan terlihat gugup, atau mukanya
merah. Sebaliknya orang yang tidak punya rasa malu, akan melakukannya dengan
tenang tanpa ada rasa gugup sedikitpun.
Diceritakan oleh sering sahabat yang bernama Abu
Sa’id Al-khudry bahwa Rasulullah SAW jika melihat sesuatu yang tidak disukainya
warna muka beliau akan berubah.
“Adalah Rasulullah SAW lebih pemalu dari gadis
pingitan. Bila melihat sesuatu yang tidak disukainya, kami dapat mengetahuinya
dari wajah beliau”. (HR. Muttafaqun ‘Alaih).
Sifat malu adalah akhlaq terpuji yang menjadi
keistimewaan ajaran islam Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya semua agama itu mempunyai
akhlaq, dan akhlaq islam itu adalah sifat – sifat malu.” (HR. Malik).
Rasa Malu adalah sumber utama kebaikan dan unsur
kemuliaan dalam setiap pekerjaan. Rasulullah SAW bersabda: “Kekejian itu selalu
membuat segala sesuatu menjadi jelek, sebaliknya malu itu selalu membuat segala
sesuatu menjadi bagus.” (HR. Tirmidzi).
Bahkan menurut Rasullah SAW, andai kata sifat malu
itu berbentuk manusia, dia akan tambil sebagai seorang yang saleh.
“Apabila sifat malu itu diumpamakan menjadi seorang,
maka ia akan menjadi searing yang saleh. Dan andaikata sifat keji itu
diumpamakan seseorang, maka dia akan menjadi orang jahat.” (HR. Thabrani).
Macam-macam malu
a. Malu
kepada Allah
Seseorang akan malu kepada Alloh apabila dia tidak
mengerjakan perintah-Nya, tidak menjauhi laranganNya, serta tidak mengikuti
petunjukNya.
b. Malu
kepada diri sendiri
Orang yang malu terhadap Allah, dengan sendirinya
malu terhadap dirinya sendiri. Ia malu mengerjakan perbuatan salah sekalipun tidak
ada orang lain yang melihat atau mendengarnya. Penolakan datang dari dirinya
sendiri. Ia akan mengendalikan hawa nafsunya dari keinginan-keinginan yang
tidak baik.
c. Malu
kepada orang lain
Setelah malu pada dirinya sendiri, dia akan malu
melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
Ketiga rasa malu di atas harus ditumbuhkan dan
dipelihara terus menerus oleh seorang muslim. Lebih-lebih lagi malu terhadap
Allah swt, karena malu kepada Allah inilah yang menjadi sumber dari dua jenis
malu lainnya.
Malu dan Iman
Malu adalah salah satu refleksi iman. Bahkan malu
dan iman akan selalu hadir bersama-sama. Apabila salah satu hilang, yang lain
juga ikut hilang. Semakin kuat iman seorang, semakin teballah rasa malunya,
demikian pula sebaliknya.
Rasullah saw bersabda, yang artinya :
“Iman itu mempunyai tujuh puluhan cabang, yang
paling utama adalah (pernyataan). Tiada tuhan melainkan Allah, dan yang paling
rendah ialah menyingkirkan duri dari tengah jalan. Dan malu adalah satu dari
cabang iman.” (HR.Bukhari).
“Malu itu sebagian dari iman, dan iman itu di dalam
surga. Lidah yang keji itu adalah termasuk kebengisan, dan kebengisan itu di
dalam neraka. (HR.Tirmidzi).
Akibat Hilangnya
Malu
Rasa malu berfungsi mengontrol dan mengendalikan
seseorang dari segala sikap dan perbuatan yang dilarang oleh agama. Tanpa
control rasa malu seseorang akan bebas melakukan apa saja yang diingkan oleh
hawa nafsunya.
Rasulullah saw bersabda:
Artinya : “Sesungguhnya di antara yang di dapat oleh
manusia dari kata – kata kenabian yang pertama ialah : “Jika engkau tidak lagi
mempunyai sifat malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu.” (HR.Bukhari).
Hilangnya sifat malu adalah awal dari kehancuran dan
kebinasaan.
Rasullah saw bersabda:
Artinya : “Sesunggugnya Allah ‘Azza wa Jalla apabila
ingin membinasakan seorang hamba, Dia akan mencabut dari dirinya rasa malu,
maka engkau tidak mendapatkannya kecuali sebagai seorang pembenci lagi dibenci
maka akan dicabut dari dirinya amanah, maka engkau tidak akan mendapatkannya
kecuali sebagai seorang pengkhianat lagi dikhianati. Apabila engkau tidak
mendapatkannya kecuali sebagai seorang pengkhianat lagi dikhianati maka akan
dicabut dari dirinya rahmah. Apabila dicabut dari dirinya rahmah mangka engkau
akan mendapatkannya kecuali sebagai orang yang terkutuk lagi mengutuk maka akan
dicabut dari dirinya Islam.” (HR. Ibn Majah).
Malu, amanah, rahmah dan islam adalah empat hal yang
saling berkait. Konsekuensi logis dari hilangnya malu adalah amanah. Bila
amanah hilang akan hilanglah rahmah dan bila rahmah hilang, hilanglah islam.
i.Sabar
Secara etimologis, sabar ( ash-shabr) berarti
menahan dan mengekang (al-habs wa al-kuf). Secara terminologis sabar berarti
menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha
Allah. Yang tidak disukai itu tidak selamanya terdiri dari hal-hal yang tidak
disenangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan dan sebagainya, tapi bisa
juga berupa hal -hal yang disenangi misalnya segala kenikmatan duniawi yang
disukai oleh hawa nafsu. Sabar dalam hal ini berarti menahan dan mengekang diri
dari memperturutkan hawa nafsu.
Menurut Imam Al-Ghazali, sabar merupakan ciri khas
manusia. Binatang dan malaikat tidak memerlukan sifat sabar karena binatang
diciptakan tunduk sepenuhnya kepada hawa nafsu, bahkan hawa nafsu itulah satu-satunya
yang mendorong binatang untuk bergerak atau diam. Binatang juga tidak memiliki
kekuatan untuk menolak hawa nafsunya. Sedangkan malaikat, tidak memerlukan
sifat sabar karena memang tidak ada hawa nafsu yang harus dihadapinya. Malaikat
selalu cenderung kepada kesucian, sehingga tidak diperlukan sifat sabar untuk
memelihara dan mempertahankan kesuciannya itu.
Macam
- macam Sabar
Menurut Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Ash-Shabr fi
Al-Qur’an , sabar dapat dibagi kepada enam macam:
1. Sabar
menerima cobaan hidup
Cobaan hidup, baik fisik maupun nonfisik, akan
menimpa semua orang, baik berupa lapar, sakit, rasa takut, kehilangan orang-orang
yang dicintai, dll. Cobaan tersebut bersifat alami, manusiawi, oleh sebab itu
tidak ada seorangpun yang dapat menghindar. Yang diperlukan adalah menerimanya
dengan penuh kesabaran, seraya meluangkan segala sesuatunya kepada Allah swt.
Allah swt berfirman, yang artinya:
“Dan sungguh
akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,
mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna
dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat
petunjuk.” (QS. AL-Baqarah 2: 155-157)
2. Sabar dari
keinginan hawa nafsu
Hawa nafsu menginginkan segala macam kenikmatan
hidup, kesenangan dan kemegahan dunia. Untuk mengendalikan segala keinginan itu
diperlukan kesabaran. Al qur’an mengingatkan, jangan sampai harta benda dan
anak-anak (diantara yang diinginkan oleh hawa nafs manusia) menyebabkan seseorang
lalai dari mengingat Allah SWT.
Allah
berfirman, yang artinya :
“ Hai orang-orang
yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari
mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah
orang-orang yang rugi.” (QS. Al Munafiqun 63: 9)
3. Sabar
dalam ta’at kepada Allah SWT
Dalam mena’ati perintah Allah, terutama dalam
beribadah kepadaNya diperlukan kesabaran.
Allah berfirman, yang artinya :
“ Tuhan
langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan
berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang
yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam 19:65)
4. Sabar
dalam berdakwah
Jalan dakwah adalah jalan panjang berliku-liku yang
penuh denga segala onak dan duri. Seseorang yang melalui jalan itu harus
memiliki kesabaran. Luqman Hakim
menasehati puteranya supaya bersabar menerima cobaan dalam berdakwah.
Allah swt berfirman, yang artinya:
“Hai anakku,
dirikanlah dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka)
dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadapa apa yang menimpa kamu,
sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal- hal yang diwajibkan. (QS. Al-Luqman:
17)
5. Sabar
dalam berperang
Dalam peperangan sangat diperlukan kesabaran,
apalagi menghadapi musuh yang lebih banyak atau lebih kuat. Dalam keadaan
terdesak sekalipun, seorang prajurit islam tidak boleh lari meninggalkan medan
perang, kecuali sebagai bagian dari siasat perang. (QS. Al-Anfal: 15-16).
6. Sabar
dalam pergaulan
Dalam pergaulan sesama manusia baik antara suami
isteri, antara orang tua dengan anak, antara tetangga dengan tetangga, atau
dalam masyarakat yang lebih luas, akan ditemui hal-hal yang tidak menyenangkan
atau menyinggung perasaan. Oleh sebab itu dalam pergaulan sehari-hari
diperlukan kesabaran, sehingga tidak cepat marah, atau memutuskan hubungan
apabila menemui hal-hal yang tidak disukai.
Allah swt
berfirman, yang artinya :
”Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian
bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak
menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS.
An-Nisa, 4: 19)
Sifat
sabar dalam islam menepati posisi yang istimewa. Al-Qur’an mengaitkan sifat
sabar dengan bermacam-macam sifat mulia lainnya. Antara lain dikaitkan dengan
keyakinan (QS. As-Sajdah 32: 24), syukur (QS. Ibrahim 14: 5), tawakkal (QS.
An-Nahl 16: 41-42) dan taqwa (QS. Ali ‘Imran 3 : 15-17) Karena sabar merupakan
sifat mulia yang istimewa, tentu dengan sendirinya orang-orang yang sabar juga
menempati posisi yang istimewa. Misalnya dalam menyebutkan orang-orang beriman
yang akan mendapatkan surga dan keridhaan Allah swt, orang-orang yang sabar
ditempatkan dalam urutan pertama sebelum yang lain-lainnya.
Allah swt berfirman, yang artinya:
“Katakanlah: “Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa
yang lebih baik dari yang demikian itu?” untuk orang-orang yang bertakwa
(kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya
sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri
yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha melihat akan
hamba-hambaNya. (yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, Sesungguhnya
kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dari siksa neraka,”
(yaitu) orang -orang yang sabar, yang benar, yang
tetap taat, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah), dan yang memohon ampun diwaktu
sahur.” (QS. Ali-Imran : 15-17).
Keutamaan Sabar
1) Orang yang
sabar akan senatiasa bersama-sama Allah.
Dan Allah lebih mencintai orang-orang yang bersabar
terhadap ujian yang diberikan oleh-Nya. Allah bersama orang-orang yang sabar.
Kebersamaan yang dimaksud oleh Allah
adalah kebersamaan secara khusus yang berarti menjaga, melindungi, dan menolong
mereka.
2) Allah memberikan apresiasi predikat taqwa kepada orang-orang yang
bersabar dalam menghadapi ujian Allah. (Al-Baqoroh:177) (Ali Imran:125).
3) Allah akan memberikan balasan kepada mereka
dengan pahala yang lebih baik dan tanpa batas.
Orang yang berhak menerimanya adalah orang-orang yang sabar. (QS Az
Zummar:10) (QS Al Qashash;80).
4) Orang-orang
yang sabar akan mendapatkan kabar gembira (QS Al Baqoroh:155).
5) Allah memberitakan bahwa orang-orang yang
sabar adalah orang-orang yang mulia. (QS Asy-Syura:43).
6) Berita gembira dari Allah bahwa hanya
orang-orang yang bersabarlah yang dapat mengambil hikmah atau pelajaran yang
bermanfaat dari ayat-ayat Allah (QS Ibrahim:5).
7) Mereka memperoleh keberuntungan, keselamatan,
dari sesuatu yang ditakuti dan masuk surganya Allah. (QS Ar-Ra’d:24).
8) Sabar mewariskan derajat kepeloporan dan
kepemimpinan. Sebagaimana ungkapan Syaikul Islam yang dikutip oleh Ibnu Qoyyim
Al-Jauziah: “ Dengan kesabaran dan keyakinan dapat diperoleh kepemimpinan dalam
agama.” Lalu ia menyebutkan firman Allah
(QS As-Sajdah:24).
9) Allah menghubungkan kesabaran dengan iman,
keyakinan, takwa, tawakal, syukur, amal shalih, dan rahmat yang diperoleh
seseorang. Sabar merupakan bagian dari iman, ibarat kedudukan kepala dari
tubuh. Tiada artinya iman bagi orang-orang tidak memiliki kesabaran, sama
artinya ibarat tubuh tanpa kepala. Sehingga Umar bin Khatab berkata; “ Hidup
yang paling baik ialah yang kami lalui dengan kesabaran.”
Kita bisa belajar
banyak tentang kesabaran dari para nabi-nabi Allah. Bagaimana kesabaran Nabi
Yusuf menghadapi rayuan Siti Zulaikha dan dimasukkan kesumur oleh
saudara-saudaranya. Kesabaran nabi Nuh dalam berjuang menyampaikan kebenaran tauhid,
Nabi Ibrahim, Musa, Nabi Muhammad Saw dan nabi-nabi Allah lainnya.
Jaza'u
Lawan
dari sifat sabar adalah al-jaza'u yang berarti gelisah, sedih, keluh kesah,
cemas dan putus asa.
Allah swt berfirman, yang artinya :
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh
kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila
ia mendapat kebaikan ia amat kikir, Kecuali orang-orang yang mengerjakan
shalat," (QS.Al-Ma'arij 70: 19-22).
Ketidaksabaran
dengan segala bentuknya adalah sifat yang tercela. Orang yang dihinggapi sifat
ini, bila menghadapi hambatan dan mengalami kegagalan akan mudah goyah,
berputus asa dan mundur dari medan perjuangan. Sebaliknya apabila mendapatkan
keberhasilan juga cepat lupa diri. Menurut
ayat di atas, kalau ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, kalau mendapat
kebaikan ia amat kikir. Semestinyalah setiap Muslim dan Muslimah menjauhi sifat
yang tercela ini.
J. Pemaaf
Pengertian Pemaaf
• Pemaaf adalah sikap suka memberi maaf
terhadap kesalan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk
membalas.
• Dalam bahasa arab sifat pemaaf disebut
dengan al-‘afwu yang secara etimologi berarti kelebihan atau yang berlebih.
Kata al-‘afwu kemudian berkembang menjadi penghapusan. Dalam konteks bahasa ini
memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati. Sikap
pemaaf merupakan salah satu dari akhlaq mulia yang juga merupakan salah satu
kriteria sekaligus manifestasi dari ketakwaan seseorang.
Allah swt berfirman, yang artinya:
“Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya, seluas
langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya),
baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran (3): 133-134).
Dari ayat
tersebut dapat diketahui bahwa ciri orang yang bertakwa adalah orang yang mau
memaafkan orang lain tanpa harus menunggu orang lain itu meminta maaf. Jadi
yang dimaksudkan dalam ayat di atas bukan meminta maaf, tetapi memberi maaf.
Sikap memberi maaf jauh lebih mulia dari sikap meminta maaf. Dalam kehidupan
sehari-hari Orang yang memberi maaf biasanya didasari adanya kesalahan yang
diperbuat orang lain terhadapnya kemudian dia dengan rela memaafkan kesalahan
orang lain tersebut. Sedang orang yang meminta maaf justru sebaliknya membuat
kesalahan terhadap orang lain kemudian dia meminta maaf atas kesalahan yang
telah diperbuatnya. Jadi, jelas sikap orang yang pertama lebih mulia daripada
sikap orang yang kedua. Orang yang pertama dengan rela hati menerima perlakuan
orang lain yang tidak baik dengan memaafkannya, sementara orang yang kedua
malah membuat kesalahan terhadap orang lain kemudian dia meminta orang lain
memaafkannya.
Sikap
orang kedua belum tentu akan diterima oleh orang yang dimintai maaf, sedang
sikap orang pertama jelas akan diterima dengan baik oleh orang yang berbuat
salah. Karena itulah al-Quran menyebut ciri orang bertakwa adalah orang yang
mau memaafkan kesalahan orang lain, bukan meminta maaf kepada orang lain.
Lapang Dada
Berlapang
dada dalam bahasa arab disebut dengan ash-shafah yang secara etimologi berarti
lapang. Dari sini ash-shafah dapat diartikan kelapangan dada.
Dalam al-Quran juga ditegaskan bahwa sikap memberi
maaf itu harus benar-benar disertai sikap lapang dada bahwa kesalahan orang
lain itu benar-benar sudah dimaafkan tanpa ada perasaan dendam sedikit pun.
Allah swt berfirman, yang artinya :
(Tetapi)
karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati
mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari
tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka
telah diperingatkan dengannya,
dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat
kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak
berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berbuat baik.(QS. Al-Maidah: 13)
Dendam
lawan
dari sifat pemaaf adalah dendam yaitu menahan rasa permusuhan di dalam hati dan
menunggu kesempatan untuk membalas. Seorang pendendam tidak akan mau memmaafkan
kesalahan orang lain sekalipun orang tersebut meminta maaf kepadanya.
Allah swt berfirman, yang artinya:
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan
dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi
(bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang
yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang
dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.An-nur:22)
Hikmah
Pemaaf
1. Orang yang pemaaf akan mendapatkan perlakuan
yang lebih baik dari orang yang dimaafkan.
2. Orang yang pemaaf akan memperkuat tali
silaturrahmi dengan orang lain, termasuk orang yang dimaafkan.
3. Sikap pemaaf menunjukan konsisten seorang
yang bertaqwa artinya orang yang tidak memiliki sikap pemaaf berarti dia tidak
disebut taqwa dalam arti yang sebenarnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Akhlak pribadi terhadap diri sendiri meliputi kewajiban terhadap dirinya
disertai dengan larangan merusak, meminasakan dan menganiyaya diri sendiri baik
secara jasmani maupun secara rohani. Akhlak pribadi seseorang itu ada dua macam
yaitu akhlak pribadi yang baik dan akhlak pribadi yang buruk. Akhlak yang baik
misalnya shidiq, amanah, istiqomah, iffah, mujahaddah, syaja’ah, tawadhu’,
malu, sabar dan pemaaf. Akhlak pribadi yang buruk misalnya suka berbohong,
berkhianat, pantang menyerah tidak tahu malu dan lain sebagainnya.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
akhlak pribadi seseorang yaitu antara lain, faktor intern yaitu faktor. yang
mempengaruhi dalam diri sendiri, faktor ekstern yaitu faktor dari luar baik
dari keluarga, kelompok, sahabat ataupun masyarakat. Oleh karena itu sifat
pribadi seorang muslim selalu terjaga dengan baik ada beberapa cara agar akhlaq
pribadi seseorang terbentuk baik diantaranya sebagai berikut: Aqidah (keyakinan)
yang benar , berdoa kepada Allah swt, mujahadah (perjuangan), muhasabah
(intropeksi diri), tafakur (merenung) dampak
postif dari akhlak mulia, melihat dampak negatif dari akhlak tercela,
jangan pernah berputus asa, bercita-cita yang tinggi, berpaling dari
orang-orang yang bodoh dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Ilyas,Yunahar, Kuliah
Akhlak. Yogyakarta: LPPI UMY
Sulaiman, Umar.
1996. Ciri-ciri kepribadian muslim. Jakarta:
Raja Grafindo persada
Zakiah Haradjat,
dkk. 1990. Dasar – dasar Akhlak .
Jakarta